FILOSOFI PEDAGANG DI PASAR TERAPUNG
A. Selayang Pandang
A. Selayang Pandang
Pasar
Terapung Muara Kuin adalah pasar tradisional yang berada di muara Sungai Kuin,
Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di pasar ini, para pedagang dan pembeli
melakukan aktivitas jual beli di atas perahu tradisonal. Perahu tersebut biasa
disebut dengan nama jukung. Adapula jenis kapal bermotor yang ikut meramaikan
aktivitas pasar ini, yakni klotok.
Pasar Terapung Muara Kuin merupakan salah satu bentuk pola interaksi jualbeli masyarakat yang hidup di atas air. Pasar ini dimulai setelah shalat Subuh dan akan berakhir ketika matahari telah beranjak naik atau sekitar jam 09.00 Wita. Apabila lewat dari jam tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasar bakal sepi. Hal ini dikarenakan para pedagang telah berpencar menyusuri sungai-sungai kecil, untuk menjual barang dagangnya kepada penduduk yang rumahnya berada di bantaran sungai.
Pasar Terapung Muara Kuin merupakan salah satu bentuk pola interaksi jualbeli masyarakat yang hidup di atas air. Pasar ini dimulai setelah shalat Subuh dan akan berakhir ketika matahari telah beranjak naik atau sekitar jam 09.00 Wita. Apabila lewat dari jam tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasar bakal sepi. Hal ini dikarenakan para pedagang telah berpencar menyusuri sungai-sungai kecil, untuk menjual barang dagangnya kepada penduduk yang rumahnya berada di bantaran sungai.
Pasar
terapung ini sudah ada lebih dari 400 tahun lalu dan merupakan sebuah bukti
aktivitas jual-beli manusia yang hidup di atas air. Seperti halnya pasar-pasar
yang ada di daratan, di pasar terapung ini juga dilakukan transaksi jual beli
barang seperti sayur-mayur, buah-buahan, segala jenis ikan, dan berbagai
kebutuhan rumah tangga lainnya. Pembelian dari tangan pertama disebut dukuh,
sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali
disebut panyambangan.
Namun
sayang, kondisi aktraktif aktivitas jual-beli di atas perahu tersebut semakin
lama semakin pudar pamornya, baik karena jumlah jumlah pedagang yang semakin
sedikit, sikap penjual yang tidak lagi cukup bersahabat, ataupun kurangnya
dukungan dari pemerintah Kota Banjarmasin. Kebijakan pemerintah membangun pasar
di darat dekat dengan Pasar Terapung Kuin dan pembangunan ratusan jembatan
rendah yang menghalangi akses lalu lintas sungai, baik langsung atau tidak,
merupakan salah satu penyebab semakin memudarnya aktivitas jual-beli di
floating market ini.
B.Keistimewaan
Keistemewaan
pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang
berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan
langka.
Mengunjungi Pasar Terapung Muara Kuin akan memberikan kenangan tak terlupakan tentang bagaimana masyarakat yang hidup di atas air memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, pengunjung juga akan mengetahui pola transaksi jualbeli yang telah berumur lebih dari 400 tahun. Oleh karenanya, pasar ini menjadi saksi bisu perjalanan aktivitas ekonomi masyarakat Kalimantan Selatan. Sehubungan denngan hal tersebut, maka muncul pameo belum ke Banjarmasin jika belum mengunjungi Floating Market Muara Kuin.
Salah satu keunikan dari Pasar Terapung adalah desak-desakan antara perahu besar dan perahu kecil yang mencari pembeli, serta penjual yang bersliweran kesana kemari dan kapalnya yang dimainkan gelombang Sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.
Mengunjungi Pasar Terapung Muara Kuin akan memberikan kenangan tak terlupakan tentang bagaimana masyarakat yang hidup di atas air memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, pengunjung juga akan mengetahui pola transaksi jualbeli yang telah berumur lebih dari 400 tahun. Oleh karenanya, pasar ini menjadi saksi bisu perjalanan aktivitas ekonomi masyarakat Kalimantan Selatan. Sehubungan denngan hal tersebut, maka muncul pameo belum ke Banjarmasin jika belum mengunjungi Floating Market Muara Kuin.
Salah satu keunikan dari Pasar Terapung adalah desak-desakan antara perahu besar dan perahu kecil yang mencari pembeli, serta penjual yang bersliweran kesana kemari dan kapalnya yang dimainkan gelombang Sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.
Suasana
berdesak-desakan antara perahu besar di pasar terapung ini cukup unik dan khas.
Para pengemudi jukung dengan mahirnya mengayuh dan mengejar pembeli atau
penjual yang berseliweran kian kemari dan perahu mereka kerap oleng dimainkan
gelombang Sungai Barito. Bagi wisatawan yang datang dari kota-kota besar, akan
merasakan sensasi tersendiri ketika mengamati pedagang wanita dengan topi
lebarnya berperahu menjual hasil kebun atau makanan olahannya sendiri.
Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung, pembagian pedagang berdasarkan barang dagangan, dan tempat berjualan yang selalu berpindah-pindah.
Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung, pembagian pedagang berdasarkan barang dagangan, dan tempat berjualan yang selalu berpindah-pindah.
Bagi
pengunjung yang hanya ingin bersantai, bisa menikmati secangkir teh atau kopi,
plus makanan/kue khas Banjar, sembari menikmati goyangan ombak yang menerpa
klotok yang ditumpangi. Pengunjung juga dapat menyaksikan rumah-rumah terapung
(Rumah Lanting) yang berada di sepanjang pinggiran sungai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar