Laman

12/27/2017

Usia Dua Puluhan

Kamu yang sudah menginjak usia dua puluh an pasti mulai dipusingkan dengan hal remeh temeh yang menjurus kepada pertanyaan sejuta umat “kapan menikah?” dan reaksi kamu cuman bisa mesem-mesem merunduk merutuki si yang ngasih pertanyaan.

Jujur ya,moment begitu sepertinya memang sudah berakar beranak pinak menjadi kebiasaan di masyarakat kita dengan atau tanpa becandaan. Terlebih pas moment kumpul keluarga macam Lebaran atau Tahun Baru an (yang ini kalau kalian ngabisin malam tahun baruan nya sama keluarga dong).

Nggak dipungkiri sih,usia 20 an memang sudah usia rawan terima pertanyaan macam begitu. Kalau di runut lagi saya yang kelahiran tahun 1991 benar-benar nggak bisa lepas dari pertanyaan yang begini deh. Mulai dari ditanyain “kapan wisuda?, Kapan wisuda?” trus udahan nya wisuda lanjut lagi “kerja di mana?” udahnya kerja di tanyain lagi “udah ada calon belum?” begitu aja terus bagai telur dan ayam keduluan mana?.

Well, rasanya pas orang-orang pada nanya “mana calonnya?” “kapan nikah?” rasanya tuh kepingin hilang dan lenyap aja, oh please?how can you thinking about my future better than me?
Kadang saya suka nanya nanya sendiri ya, apa sih yang bisa dihasilkan dari sebuah pertanyaan “kapan nikah?” padahal kan kita tau sendiri kalau jodoh,rejeki dan maut udah pasti diatur sama Allah SWT. Saya suka mikirnya begini bukankah mempertanyakan hal yang sudah dijamin oleh Allah SWT itu merupakan suatu hal yang sangat tidak etis. Lagian juga yang namanya menikah nggak sekadar menyatukan dua insan yang saling mencinta.

Banyak hal yang memang harus dipertimbangkan ketika kita sudah benar-benar memutuskan untuk menikah. Sejatinya menjadi seorang istri tuh dibutuhkan begitu banyak kesiapan mental dan psikis. Serius deh, yang masih beranggapan mau nikah perlunya duit aja coba singkirkan dulu. Yang biasanya masa bodoh sama kehidupan orang pas sudah bersuami tetiba harus mengurusi segala tetek bengeknya suami macam ngurusin makan, bajunya dia even barang barang sekecil upil nya dia kita juga yang ngurusin. Bagi saya ngurus hal yang begituan harus dengan super duper kontrol emosi mesti sabar dan terlebih harus ikhlas.

Di sisi lain kebiasaan masyarakat kita yang nggak segan-segan bertanya ‘kapan nikah?’ kepada seseorang yang hidupnya masih melajang di usia dua puluhan. Padahal ya,keputusan seseorang untuk melajang atau menikah bukan bergantung pada desas desus di luar.

Sebenarnya melihat dari kebiasaan masyarakat yang begini, saya mikirnya gini “kok ya orang-orang sekarang masih macam dijajah aja gitu, hidup seakan akan berhenti ketika lo nggak kawin”. C’mon guys, hidup sekarang dinamikanya udah kejar kejaran sama wifi, kamu yang hidupnya masih di seputaran 1000 kbps bakal tertinggal jauh kalau nggak upgrade. Dan lagi ya, media sosial yang sangat mudah diakses seharusnya bisa membentuk pola pikir masyarakat untuk bisa lebih bijak dalam menyikapi keputusan seseorang untuk berkarier terlebih dahulu atau memutuskan menikah di usia nya yang dua puluhan ini.

Saya yakin banget kalau seseorang sudah memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya, keputusan seperti itu bukan berdasar atas balap-balapan di grup reuni semata atau nggak rela kalau jodoh bukan dengan pacar yang udah lama jadian serta alasan-alasan non sense lainnya. At least, di usia dua puluhan keputusan yang diambil jelas berdasarkan baik dan nggak baik untuk kehidupan kita nanti ya guys, kita sudah siap dan sedia dengan resiko yang muncul di kemudian hari dan benar-benar memegang teguh tanggung jawab sebagai seseorang yang telah berumah tangga.