Kamu yang sudah
menginjak usia dua puluh an pasti mulai dipusingkan dengan hal remeh temeh
yang menjurus kepada pertanyaan sejuta umat “kapan menikah?” dan reaksi kamu
cuman bisa mesem-mesem merunduk merutuki si yang ngasih pertanyaan.
Jujur ya,moment
begitu sepertinya memang sudah berakar beranak pinak menjadi kebiasaan di
masyarakat kita dengan atau tanpa becandaan. Terlebih pas moment kumpul
keluarga macam Lebaran atau Tahun Baru an (yang ini kalau kalian ngabisin malam
tahun baruan nya sama keluarga dong).
Nggak dipungkiri
sih,usia 20 an memang sudah usia rawan terima pertanyaan macam begitu. Kalau di
runut lagi saya yang kelahiran tahun 1991 benar-benar nggak bisa lepas dari
pertanyaan yang begini deh. Mulai dari ditanyain “kapan wisuda?, Kapan wisuda?”
trus udahan nya wisuda lanjut lagi “kerja di mana?” udahnya kerja di tanyain
lagi “udah ada calon belum?” begitu aja terus bagai telur dan ayam keduluan
mana?.
Well, rasanya pas orang-orang pada nanya
“mana calonnya?” “kapan nikah?” rasanya tuh kepingin hilang dan lenyap aja, oh please?how can you thinking about my
future better than me?
Kadang saya suka
nanya nanya sendiri ya, apa sih yang bisa dihasilkan dari sebuah pertanyaan
“kapan nikah?” padahal kan kita tau sendiri kalau jodoh,rejeki dan maut udah
pasti diatur sama Allah SWT. Saya suka mikirnya begini bukankah mempertanyakan
hal yang sudah dijamin oleh Allah SWT itu merupakan suatu hal yang sangat tidak
etis. Lagian juga yang namanya menikah nggak sekadar menyatukan dua insan yang
saling mencinta.
Banyak hal yang
memang harus dipertimbangkan ketika kita sudah benar-benar memutuskan untuk
menikah. Sejatinya menjadi seorang istri tuh dibutuhkan begitu banyak kesiapan
mental dan psikis. Serius deh, yang masih beranggapan mau nikah perlunya duit aja
coba singkirkan dulu. Yang biasanya masa bodoh sama kehidupan orang pas sudah
bersuami tetiba harus mengurusi segala tetek bengeknya suami macam ngurusin
makan, bajunya dia even barang barang sekecil upil nya dia kita juga yang
ngurusin. Bagi saya ngurus hal yang begituan harus dengan super duper kontrol emosi
mesti sabar dan terlebih harus ikhlas.
Di sisi lain
kebiasaan masyarakat kita yang nggak segan-segan bertanya ‘kapan nikah?’ kepada
seseorang yang hidupnya masih melajang di usia dua puluhan. Padahal
ya,keputusan seseorang untuk melajang atau menikah bukan bergantung pada desas
desus di luar.
Sebenarnya
melihat dari kebiasaan masyarakat yang begini, saya mikirnya gini “kok ya
orang-orang sekarang masih macam dijajah aja gitu, hidup seakan akan berhenti
ketika lo nggak kawin”. C’mon guys,
hidup sekarang dinamikanya udah kejar kejaran sama wifi, kamu yang hidupnya
masih di seputaran 1000 kbps bakal tertinggal jauh kalau nggak upgrade. Dan lagi ya, media sosial yang
sangat mudah diakses seharusnya bisa membentuk pola pikir masyarakat untuk bisa
lebih bijak dalam menyikapi keputusan seseorang untuk berkarier terlebih dahulu
atau memutuskan menikah di usia nya yang dua puluhan ini.
Saya yakin
banget kalau seseorang sudah memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya, keputusan
seperti itu bukan berdasar atas balap-balapan di grup reuni semata atau nggak
rela kalau jodoh bukan dengan pacar yang udah lama jadian serta alasan-alasan non sense lainnya. At least, di usia dua puluhan keputusan yang diambil jelas berdasarkan
baik dan nggak baik untuk kehidupan kita nanti ya guys, kita sudah siap dan sedia dengan resiko yang muncul di
kemudian hari dan benar-benar memegang teguh tanggung jawab sebagai seseorang
yang telah berumah tangga.