Rasanya hanya ingin berteriak sekeras gema menyahut raungan suaraku! (Nah, lho..gimana tuh??haha)
Dengan segala kepusingan yang sudah ada, ditambah lagi dengan hal kecil yang membuatku berpikir ingin begini saja, ingin begitu saja, harus seperti ini deh atau bahkan aku yang harus memulai untuk mengadakannya! Sesuai dengan materinya Om Mario ‘super’ Teguh tadi malam, from galau to wisdom, kekekeke……
Sejarahnya begini (udah kaya jaman kapaaann,.gitu)
Dengan niat pengen beli baju sasirangan nih..maka aku dengan motor 125cc bersama Riska (yang selanjutnya akan disebut sebagai teman) yang kubonceng di belakang berangkatlah menuju pasar Sudimampir Banjarmasin. Berharap cuaca agak mendung walaupun tidak menginginkan hujan ketika itu. Tetapi, beruntung hujan tidak melainkan panas’manggantang buannya ae’. Tetap tuh dibela-belain jalan menuju target utama “Pasar Sudimampir”
Nah, sampai di tempat tujuan, maka mulailah aku dan teman memainkan ‘mata’ untuk meneliti setiap deretan toko pakaian yang sekiranya menawarkan jenis Sasirangan.
Yang kuingat, kami tidak langsung memarkirkan kendaraan ketika sampai tetapi mencoba mengulur waktu sebentar untuk memutar jalan dan sesegeranya memutuskan untuk mengakhiri.
Rute pertama, kami memasuki pasar Sudimampir Baru, hampir setengah jam memutar hasilnya nihil, pakaian dengan jenis Sasirangan TIDAK ada yang menjualnya.
Sempat kudatangi salah satu toko yang didepannya menawarkan kain sasirangan dan sedikit percakapan dibuka,
Na :”Ada jual baju jenis Sasirangan kah?”
Penjual :”Kadada, batik Jawa haja nah” (“Nggak ada, adanya Batik Jawa saja”)
Hopeless tuh,mulai ada rasa kesal mendengarnya.
Kemudian, kuputuskan untuk menyusuri deretan toko diseberangnya hingga ke grosiran depan Lima Cahaya Dept.Store. Beberapa toko kulihat ada yang menawarkan baju jenis Sasirangan, namun hanya jenis laki-laki nya saja. Hampir menyerah sudah tuh, kemudian dengan segenap semangat yang tersisa terus berjuang untuk mencari baju jenis batik Kalsel ini.
Setelah menyambangi took terakhir,di temukanlah baju ‘keramat’ itu,
Na :”Bu,baju sasirangan yang gasan biniannya ada kah?”(Bu,baju sasirangan untuk model perempuannya ada?)
Penjual :”Ada, handak warna kayapa,kam?”(Ada,mau warna apa?)
Dan selanjutnya,bla..bla…bla….
Kesimpulan dari dialog dengan pedagang. Sasirangan sangat jarang dibeli bahkan oleh orang Banjar sendiri, entah dengan alasan apa. Padahal suatu kebanggan bahwa kain atau baju jenis sasirangan ini ringan kantong dan terutama produk lokal sendiri. Rasanya miris melihat keadaan, bahwa secara nasional batik digalakan begitu gencar, merancang batik dengan berbagai model dan fashion yang tak tertinggal. Sedangkan milik lokal jadi terlupakan =_=…
Rasanya ingin memborong semua jenis dan motif kain sasirangan dan mendesainnya sendiri menjadi model yang tak terkalahkan.Hanya karena model baju sasirangan yang ditawarkan di pasaran standar saja, kebanyakan yang tersedia hanya model kemeja biasa, bukan berarti mengurangi rasa bangga terhadap sasirangan, bukan. Dengan sedikit inisiatif dan kreatifitas yang dimiliki, aku yakin saja sasirangan bias bersaing dengan model batik yang begitu fashionistaa……


